CERITA DANA BOX


Ada sebuah cerita
Cerita diambil dari kisah nyata
Yang berawal dari sebuah keluarga
Kebetulan ada seorang ayah
Dan dia mempunyai anak wanita dua
Dia seorang buruh yang tak tentu hasilnya

MENANGISLAH!


Dikisahkan tentang seorang yang menangis terisak kemudian tersungkur tak sadarkan diri. Setelah siuman, dia ditanya: “Ada apa dengan dirimu? Dia menjawab: “Selepas shalat aku berzikir, kemudian aku menghitung-hitung keadaan diriku. Aku mengadili diriku sendiri sebelum datang pengadilan Allah. Bila setiap harinya aku berbuat dosa, apakah karena lalai ibadah atau karena amal-amalku, berarti aku telah menabung 365 dosa setiap tahunnya. Umurku enam puluh tahun dan itu berarti 21.900 dosa yang harus aku pertanggungja wabkan. Padahal, tidak ada satu perbuatan walau sebesar biji zarah sekali pun kecuali akan diperhitungkan Allah SWT di hari kiamat nanti. Lantas betapa aku akan menghadap Tuhanku? Oh, alangkah sedikitnya bekalku untuk menempuh perjalanan yang panjang nanti,” ujarnya.

SYEKH BISYIR BIN HARITS RA

Nama lengkapnya Abu Bisyr bin Al Harits Al Hafi. Beliau lahir sekitar tahun 150 H/767 M di dekat Kota Merv. Belajar hadits di Baghdad dan menetap di sana. Di usia muda, beliau terkenal sebagai pemuda berandal dan suka mabuk-mabukan. Namun setelah sadar, pendidikan formal yang sedang ditekuninya, juga kehidupan malam yang suram ditinggalkannya. Beliau lalu mengasah ruhaninya dengan disiplin diri yang kuat. Hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan, dan bertelanjang kaki.

Bagaimana jalan hidup Bisyr, manusia berkaki telanjang yang sangat dikagumi Imam Ahmad bin Hambal dan dihormati oleh Khalifah Al Makmun? Inilah kisahnya.

MERAIH KEMENANGAN DENGAN KEKUATAN DOA

Saat ini manusia hidup dalam suasana materialisme. Maksud dari materialisme di sini adalah bahwa manusia modern saat ini meletakkan faktor-faktor yang tertangkap oleh akal dan panca indera sebagai faktor penting dalam kehidupan mereka. Segala keputusan mereka selalu mempertimbangkan hal-hal yang bersifat materi ini. Baru ketika faktor-faktor materi ini hilang, mereka mulai menengok cara-cara pemecahan masalah melalui pendekatan spiritual atau kerohanian. Misalnya melalui doa, istighotsah, istikharah atau lelaku spiritual lainnya.

JANGAN MEMANDANG LAHIRIYAHNYA


Suatu hari, seorang Arab datang ingin berguru kepada Abu Sa’id Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal dengan karomahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah pada pasir. Ketika orang Arab itu tiba, Abul Khair sedang memimpin sebuah majelis di tengah para pengikutnya. Waktu itu Abul Khair membaca Al Fatiha. Saat tiba pada bacaan ghairil maghduubi’alaihin waladhdhaalin, seorang Arab itu berpikir, “Bagaimana mungkin aku berguru kepadanya, membaca Al Qur’an saja tidak bisa”. Akhirnya orang Arab itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair.

JANGAN MERASA BISA

Seorang ulama sufi, Abu Yazid Al Busthami pernah mengatakan: Pada mulanya saya telah salah menduga dalam empat hal, yaitu :
saya mengira bahwa sayalah yang berdzikir, mengetahuiNya, cinta kepadaNya dan mencariNya. tetapi setelah mengetahui, nyata bahwa dzikrullah mendahului dzikirku, pengetahuan Allah mendahului pengetahuanku, cinta Allah mendahului cintaku dan Dia lebih dahulu menarik aku sebelum aku datang kepadaNya.

Dikutip dari : Majalah Aham Edisi 76/1429 terbitan Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo

ENGKAU BERSAMA ORANG YANG ENGKAU CINTAI

Diceritakan oleh Anas bin Malik, seorang Arab dari dusun datang ke Masjid Nabawi, dengan berani ia bertanya , “”Ya Rasulullah, kapan kiamat terjadi ?” Rasululllah melakukan sholat tanpa menjawab pertanyaan itu.
Usai sholat beliau menghadap jama’ah, “mana orang yang bertanya tentang hari kiamat itu?”.
Orang Arab itu berkata, “Saya, ya Rasulullah.”
Rasulullah bertanya, “Apa yang sudah kau persiapkan buat hari kiamat?”
Mendengar pertanyaan Nabi SAW itu, seluruh keberaniannya hilang. Ia menundukkan kepalanya dan berguman, “Wallahi, ma a’dadtu laha min katsiri amali, shalatin wa laa shaumin, illa inni uhibbullaha wa rasulih”. Demi Allah, aku tidak mempersiapkan amal yang banyak, tidak pula shalat yang banyak dan tidak juga puasa yang banyak. Tetapi aku mencintai Allah dan RasulNya. Nabi bersabda, “Innaka ma’a man ahbabta!” Engkau bersama orang yang engkau cintai.

Dikutip dari : Majalah Aham Edisi 76/1429 terbitan Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo

RIYADHOH HARUS JADI KEHIDUPAN KITA

Para hadirin-hadirat yang kami hormati. Perjuangan Wahidiyah adalah perjuangan yang memperjuangkan iman, Islam dan ihsan. Memperjuangkan kualitas iman kita, kualitas Islam kita didalam menjalankan perintah-perintah Allah. Maupun kuantitas ibadah kita. Allah SWT berfirman:

"Dan tiada Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat 56)

Jadi, kita diciptakan oleh Allah di dunia ini supaya kita beribadah kepada Allah. Tidak ada misi lain bagi kita kecuali ibadah, hingga kita betul-betul menjadi orang yang 'abidin, mukhlisin ataupun arifin.

SUASANA MUJAHADAH KUBRO

Jika daku melihat foto-foto ini ingin rasanya daku kembali kesana sesegera mungkin,,
YAA SYAYIDII YAA ROSULALLOH

Silahkan klik :
http://pengamalwahidiyah.org/berita.htm

MENGINTIP FENOMENA ALAM BARZAKH

Kehidupan manusia pada hakikatnya adalah perjalanan panjang dan memakan waktu yang sangat panjang pula. Bermula dari alam arwah. Yaitu alam di mana manusia masih dalam bentuk ruh-ruh. Kemudian disusul dengan alam rahim di dalam kandungan ibu. Berikutnya adalah alam dunia yang saat ini kita hidup di dalamnya. Setelah itu adalah alam barzakh atau alam kubur. Baru kemudian kita memasuki alam keabadian, yaitu alam akhirat. Saat itu, kita akan menempati tempat tinggal kita yang sebenarnya, yaitu salah satu di antara surga atau neraka.
Follow us on Twitter! Follow us on Twitter!
Replace this text with your message